CERITA AKU DAN YUSUF
Bagian Satu
Kampung adalah rumahku, tempat
tinggal dan tentu saja tempat bermain. Sejak kecil aku gemar bermain dengan
teman-teman. Dengan mereka, aku belajar, bermain, berkelahi sampai mencuri. Masa
kecil itu sangat indah, tak ada yang perlu dipikirkan apalagi dikhawatirkan. Aku
sangat mencintai masa kecilku dengan sejuta cerita yang luar biasa.
Aku mengenal Yusuf, mengenalnya
sejak kira-kira usia 6 atau 7 tahun ketika sudah menginjak sekolah SD. Ternyata
ia saudaraku, meski bukan saudara kandung, rasanya aku terlahir dengan rasa
kecintaan yang tinggi terhadap saudara-saudariku dari garis keturunan keluargaku.
Panggilanku kepadanya ‘Sarcup’, menurutku itulah panggilan sayangku kepadanya.
Hampir tak ada hari kita bermain
bersama, tentu karena satu sekolah dan satu kelas. Bersama itu pula kami terus
meningkatkan kualitas pertemanan dan persaudaraan. Permainan sepak bola,
mungkin salah satu cara kami mempersatukan persepsi, saling mengerti dan
memahami. Pasangan serasi jika aku menjadi penyerang, maka ia menjaga
pertahanan, jika aku menjadi gelandang, maka ia menjadi penyerang handal, dan
jika aku sedang sangat ingin mengalahkan lawan maka ia sanggup menjadi kiper
kebanggaanku.
Tak jarang, ia pun sengaja
menjadi lawanku, agar teman-teman kami bisa lihat, akulah yang lebih hebat dari
Sarcup – Selalu ingin tertawa mengingat hal-hal yang bahagia, kocak dan
menyenangkan – Bersama kawan lain yang selalu menjadi teman sepermainan yang
menyenangkan. Bayu, Sarcup, Akmal, Temon, Betu, Solebang, Boled, Rama Dayeuh,
Rama Huma, Dodon, Pedet, Cutipan, Aldi dan satu lagi yang paling gokil yakni
Tajimun.
Hari-hari yang berjalan begitu
indah. Bermain bola, berenang, memancing, berpetualang sampai puluhan permainan
anak-anak kami selesaikan hari demi hari. Tak satu haripun aku menjalaninya
tanpa Sarcup. Begitu indah bukan?
Selama 6 tahun satu sekolah SD dengan
kelas yang sama karena hanya ada satu kelas. Kami selalu membuat gaduh di kelas,
di lapangan, di madrasah, di rumah dan dimana-mana. Hanya satu alasan yang kami
pegang, kami ingin bermain dengan teman-teman supaya senang, itu saja.
Waktu sekolah, kami pun berangkat
sekolah, waktu mengaji, kami pun mengaji. Mungkin dalam satu hari, aku bermain
dengan Sarcup kurang lebih setengah hari saja. Karena kegiatan sore kita berbeda,
aku mengaji di madrasah terdekat dengan rumah, Sarcup pun demikian. Maka dari
itu, kami berkumpul dan bersenang-senang lamanya pada saat belajar di sekolah.
Hari Minggu adalah saatnya kami
memilih permainan yang akan kami mainkan dengan teman-teman. Biasanya lari pagi
menjadi opsi yang wajib untuk mengawali kegiatan dihari libur. Sepekan, tak bisalah
ku deskripsikan lengkap bagaimana tingkah lakunya padaku, karena begitu banyak
dan membekas dalam hatiku. Sepekan itu, rasanya sangat cepat karena selalu menghadirkan
suasana yang baru dengan permainan dan pelajaran baru tentu darinya Sarcup
untukku.
Sejak kecil kutanamkan sikap peka
dan mengetahui bagaimana menjadi teman dan saudara yang baik. Jika ada uang
lebih aku bisa saja membelikan jajan untuk Sarcup seperti Martabak Mini dan
ketika aku ingin ditlaktir olehnya, aku langsung pesan kepada penjual dan
mengatakan, ‘Mang, ke dibayaran ku si Sarcup (Sambil tertawa)’ – ‘Mang,
nanti dibayarin sama Sarcup.’ – itulah aku.
Untuk Sahabat sejatiku, Ahmad
Yusuf bin Nadar (24/02/2020) – Al Fatihah.
Semarang, 25 Februari 2020
Komentar